Sekawanan Drivel Ojol Viral Lantaran “Curi” Jenazah Bayi dari RS, Begini Faktanya

Belum lama ini viral sekawanan pengemudi ojek online di Padang, Sumatera Barat sedang berbondong-bondong membawa jenazah seorang bayi dari rumah sakit M Djamil Padang, Sumatera Barat.

Mereka mengambil jenazah bayi secara paksa dan membawanya pergi dengan menggunakan sepeda motor lalu jenazah dibalut seragam ojek online.

Menurut Ketua Komunitas Driver Urang Minang, Nanda, menceritakan kronologis kejadian pengambilan jenazah bayi dari RSUP M Djamil Padang itu.

Saat itu rekan-rekannya membantu orangtua bayi mengurus pemulangan jenazah sejak pukul 9 WIB.

“Tapi pihak rumah sakit mengoper kian kemari tidak jelas ujungnya. Selanjutnya kami ambil paksa jenazah adik kami untuk dibawa ke rumah duka. Karena adik kami sudah 4 jam di kamar jenazah, “ucap Nanda.

Diketahui jika aksi yang dilakukan rombongan ojek online yang mengambil jenazah bayi secara paksa itu merupakan bentuk aksi solidaritas dari pengemudi ojek online yang berada di Padang.

Mereka menganggap rumah sakit secara sengaja menahan jenazah tersebut karena orangtua bayi yang merupakan driver ojek online tidak sanggup melunasi pembayaran administrasinya.

Terkait viralnya berita tersebut, Rumah sakit M Djamil Padang memberikan tanggapan.

Rumah sakit menyesalkan peristiwa sekawanan rombongan pengemudi ojek online yang membawa paksa jenazah bayi tanpa sepengetahuan rumah sakit mau pun orangtua si bayi.

Pihak rumah sakit yang diwakili oleh Gustiavianov, Humas Rumah Sakit M Djamil menampik semua tuduhan sekawanan ojek online yang menilai rumah sakit mempersulit pengurusan jenazah bayi tersebut.

Diakuinya bahwa rumah sakit memiliki sejumlah prosedur terkait pengurusan pasien meninggal sebelum diperkenankan meninggalkan rumah sakit.

“Penahanan jenazah bayi di rumah sakit M Djamil itu tidak benar. Sebenarnya pasien tersebut meninggal di M Djamil, kemudian ada proses-proses yang harus dijalani,” kata Gustivianov.

Gustianov menjelaskan jika dalam proses pengurusan jenazah bagi orang tua atau pihak yang mungkin mengalami permasalahan dana, rumah sakit tidak mengharuskan untuk membayarkan sejumlah uang.

Bahkan keluarga pasien cukup menjaminkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), pasien dapat langsung mengurus administrasinya

“Untuk pasien-pasien yang meninggal bukan untuk pasien ini saja, pasien kalau tidak ada uang, tidak harus membayar, namun cukup menjaminkan ktp saja untuk syarat administrasi,” ujar Gustivianov.

Gustianov menambahkan bahwa proses administrasi di Rumah Sakit M Djamil itu mudah dan cepat.

Bahkan sebenarnya diakui oleh Gustianov keluarga jenazah sebelumnya sudah sempat menjaminkan KTP dan KK untuk berutang ke rumah sakit sebanyak 24 juta sebagai biaya administrasi.

Namun setelah dipetimbangkan oleh pimpinan dan direksi, akhirnya digratiskan.

Gratis tapi dibayarkan oleh pimpinan mengingat faktor ekonomi keluarga pasien.

Diketahui, meskipun tindakan yang dilakukan para ojek online salah, pihak rumah sakit masih mempertimbangkan kembali untuk mengambil jalur hukum atas insiden tersebut. Gustivianov mengatakan dirinya memahami ketidaktahuan driver ojek online dalam mekanisme pemulangan jenazah pasien.

“Sebenarnya proses administrasi di M Djamil itu cepat, namun sepertinya ada pemahaman yang kurang tepat, sehingga mereka membawa sendiri tanpa sepengetahuan keluarga mayat tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, orangtua jenazah bayi menyatakan tidak mengetahui jika terdapat rombongan pengemudi ojek online yang berusaha membawa paksa jenazah dari rumah sakit.

Menurut sepengetahuan orang tua jenazah, aksi yang dilakukan para pengemudi ojek online merupakan bentuk solidaritas.
“Kami tidak tau kalau jenazah dibawa oleh rombongan ojek online, soalnya saya sedang sudah mengurus administrasinya, “kata orangtua jenazah, Dewi Suryani.

Sebelumnya rombongan pengemudi ojek online tersebut telah mencoba membantu mencarikan biaya perawatan sebelum jenazah dirujuk menuju Rumah Sakit M Djamil.