Rupiah Perkasa jika Biden jadi Presiden Amerika !

Viralnesia – Penetapan pemenang Presiden AS sudah didepan mata, saat ini jumlah suara elektoral yang diraih Biden sudah mencapai 264 suara, Biden membutuhkan 270 suara untuk memenangkan pertarungan ini.

Hal ini tentunya membuat perhatian pelaku pasar tertuju pada siapa yang akan menjadi pemimpin negara Adidaya tersebut.

Maklum saja, segala macam kebijakan yang diambil pemerintah AS tidak hanya berdampak di negaranya, tetapi bisa berdampak secara global, khususnya di pasar finansial.

 

Pasar finansial Indonesia tentu saja juga terkena dampaknya, reaksi pasar terhadap siapa yang memenangi pilpres kali ini tentu saja akan berbeda.

Seandainya Trump kembali memenangi pemilu kali ini, tentunya tidak akan ada perubahan signifikan dari kebijakan yang diterapkan saat ini. Perang dagang dengan China misalnya, masih akan tetap berkobar. Kemudian, dari segi perpajakan tentunya tidak akan berubah, setelah dipangkas pada periode pemerintahannya saat ini. Lalu bagaimana jika Biden yang memenangkan pemilihan kali ini, berikut kami rangkum kebijakan Biden dan Trump.

Source: JP Morgan

 

 

Sementara jika lawannya, Joe Biden, yang memenangi pilpres, bisa dipastikan akan ada perubahan kebijakan. Perang dagang dengan China kemungkinan tidak akan berkobar lagi, sementara pajak kemungkinan akan dinaikkan.

Melihat kemungkinan kebijakan yang akan diambil, kemenangan Biden akan lebih menguntungkan bagi Indonesia. Sebab, perang dagang dengan China kemungkinan akan berakhir.

Seperti diketahui, perang dagang AS-China yang dikobarkan oleh Presiden Trump sejak tahun 2018 membuat perekonomian global mengalami pelambatan signifikan, termasuk juga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat.

Melansir data Refinitiv, di tahun 2018 saat perang dagang berkobar, rupiah mengalami pelemahan sekitar 6% melawan dolar AS di Rp 14.375/US$. Bahkan, pada Oktober 2018, rupiah sempat menyentuh level Rp 15.230/US$ atau melemah lebih dari 12% secara year-to-date (YtD).

Jika dilihat lebih ke belakang, rupiah langsung KO setelah Donald Trump memenangi pilpres di pada 8 November 2016. Saat itu, kurs rupiah berada di level Rp 13.083/US$, setelahnya langsung merosot di akhir November berada di level Rp 13.550/US$ atau merosot sekitar 3,5%.

Sejak saat itu, rupiah tidak pernah lagi mencapai level Rp 13.000/US$.

Selain berakhirnya perang dagang, jika Biden dan Partai Demokrat akhirnya berkuasa, pajak korporasi di AS akan dinaikkan. Hal itu justru berdampak bagus bagi Indonesia, sebab berpotensi membuat para investor akan mengalirkan modalnya ke negara emerging market.

Kemudian, dari segi stimulus fiskal, Biden tentunya akan menggelontorkan dengan nilainya lebih besar ketimbang Trump dan Partai Republik.

Nancy Pelosi, ketua House of Representative (DPR) dari Partai Demokrat sebelumnya mengajukan stimulus fiskal dengan nilai US$ 2,2 triliun, yang tidak disepakati oleh Pemerintahan Trump, dan ditolak oleh Partai Republik.

Semakin besar stimulus artinya semakin banyak uang yang beredar di perekonomian, secara teori dolar AS akan melemah. Belum lagi jika Indonesia kecipratan capital inflow akibat stimulus tersebut, tentunya rupiah akan semakin perkasa.

Hasil riset JP Morgan yang dirilis pada 29 Oktober lalu juga menunjukkan negara-negara emerging market akan diuntungkan jika Biden menjadi orang nomor 1 di Negeri Paman Sam. Sebab kebijakan perdagangan yang diambil dikatakan tidak impulsif.

Secara nasional, hasil survei menunjukkan Joe Biden unggul cukup jauh dari Donald Trump, tetap di 6 negara bagian yang menjadi battleground, keunggulan tersebut menipis.

Survei terakhir yang dilakukan oleh NBC News/Wall Street Journal secara nasional menunjukkan Joe Biden masih diunggulkan dengan memperoleh 52% suara dalam survei tersebut, sementara Donald Trump 42%.

Namun, pilpres di AS menggunakan sistem electoral vote, dimana setiap negara bagian memiliki jumlah suara yang berbeda-beda, kandidat yang memenangi suara di negara bagian tersebut akan memperoleh semua electoral vote.

Kandidat yang memperoleh electoral vote terbanyak akan menjadi presiden AS, meski kalah dalam suara publik (popular vote), seperti yang terjadi pada 2016 lalu. Saat itu Donald Trump memenangi electoral vote, dan lawannya Hilary Clinton memenangi popular vote. Alhasil, Donald Trump menjadi Presiden AS ke-45

Oleh karena itu, negara bagian yang menjadi battleground bisa menjadi kunci kemenangan, sebab banyak ada swing voter.

 

Sharing is caring!

Leave a Reply