Heboh! Beginilah Isi Surat Calon Pengantin yang Tewas Gantung Diri

surat rekomendasi nikah Lia

Kembali mencuat kabar meninggalnya calon pengantin, kali ini berasal dari daerah Aceh. Tepatnya di Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, pada Rabu (21/8/2019).

Lia Yulrifa, seorang wanita yang baik, santun, dan sangat manja dengan ibunya ini harus meregang nyawa dengan gantung diri di kontrakannya. Pernikahan yang harusnya dilaksanakan pada Jumat (23/8/2019) harus gagal karena kejadian tragis ini.

Surat rekomendasi nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) pada 14 Agustus 2019 di Leungbata, Banda Aceh ini menyatakan bahwa status keduanya berbeda, yaitu Lia Yulrifan masih perawan dan calon suaminya yaitu Hendrawan Sofyan sudah beristri.

Namun, saat itu juga Kepala KUA Leungbata, H Mansur SAg mengklarifikasi hal tersebut. Beliau dengan jelas menegaskan bahwa Hendrawan adalah seorang duda.

Kepala KUA Leungbata, H Mansur Sag | Serambinews.com

“Tetapi hal terpenting yang perlu kami luruskan agar tidak terjadi fitnah, bahwa di dalam surat rekomendasi nikah itu, status pernikahan Hendrawan Sofyan, tertulis beristri,” begitu kata Manshur seperti yang dilansir dari Serambinews.com pada Kamis (22/8/2019).

“Padahal yang benar Hendrawan sudah menyandang status duda, sejak 24 November 2017 lalu”, begitu keterangan dari Manshur sambil menunjukkan beberapa helai dokumen yang tidak lain adalah fotocopy dari akta cerai Hendra.

Masalah yang terjadi disebabkan Hendrawan lalai tidak mengupdate status dirinya ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).  Sehingga pihak KUA mencetak data yang salah.

“Semuanya kan sudah sistem online, sehingga setiap data lama yang belum diupgrade atau dilaporkan pembaharuannya, maka data yang ada di Disdukcapil yakni status pernikahan Hendrawan Sofyan sudah beristri, maka secara otomatis saat kami keluarkan surat rekomendasi itu akan keluar sudah beristri, karena belum diperbaharui.”

“Padahal Hendrawan, calon suami Lia Yulrifa sudah berstatus duda sejak 24 November 2017 dan sudah berkekuatan hukum tetap,” jelas Mashur lagi.

Kegiatan rutin sebelum melangsungkan pernikahan, calon pengantin harus mengikuti acara bimbingan dan bimbingan saat itu dilakukan oleh Ustadz Abdul Hadi.

“Seharusnya dara baro (Lia Yulrifa) itu bimbingan di daerahnya sendiri di Nagan Raya”

“Tetapi, karena Hendra calon suaminya itu meminya agar dibimbing sekalian di KUA Leungbata, dengan alasan nanti tidak repot-repot lagi saat tiba di Nagan Raya, sehingga bimbinganpun kami lakukan,” begitu kata Ustadz Abdul Hadi.

Saat bimbingan berjalan seperti biasa namun tiba di materi tentang keridhaan, wajah dari kedua calon pengantin ini mendadak berubah menjadi sedih.

“Tapi, saya piker itu adalah hal lazim dan biasa untuk para calon pengantin yang akan menikah. SAya juga tidak berani menanyakan apa-apa, karena memang itu sudah biasa dan tidak pernah terpikir macam-macam, apa yang terlintas di pikiran mereka,” begitu penjelasan Abdul Hadi.

Tidak ada persoalan serius yang terjadi antara keduanya, “Hendra, calon suami korban itu mengatakan antara dirinya dengan Lia Yulrifa, tidak ada persoalan apapun sebelum kejadian calon istrinya ditemukan meninggal tergantung.”

“Bahkan, siang tadi mereka mau pulang bersama ke Darul Makmur, Nagan Raya, karena haru Jumat 23 Agustus 2019 mereka mau melangsungkan pernikahan,” begitu kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH melalui Kapolsek Krueng Barona Jaya, Iptu M Hasan seperti yang dilansir dari Serambinews.com, Kamis (22/8/2019).

Anehnya, ada sepucuk surat dan pulpen yang berada di lokasi kejadian dan ditemukan oleh Putri Eliza (19) saksi pertama yang menemukan korban tergantung.

Beginilah isi suratnya:

Surat dari Lia | Serambinews.com

‘Mama Maafin Lia.

Lia Sudah Buntu Jalannya. Lia Rasa ini adalah jalan satu-satunya untuk menebus kesalahan yang ada pada bang hendra. Lia sudah ingkar janji sama mama dan bang hendra. Maafin Lia Ma, Ayah, Adek kakan Eza. Lia sayang kali sama mama, ayah dan adek Lia, tapi Lia belum bisa membahagiakan kalian. Maaf.”

Ada kejanggalan

Namun, ada beberapa kejanggalan yang dirasakan oleh pihak keluarga berkaitan dengan isi surat tersebut. Antaranya seperti.

Menurut pihak keluarga, Lia, dan teman kontrakannya merasa tidak ada yang memiliki selendang berwarna merah yang digunakan untuk gantung diri.

Bahkan tulisan yang ada di surat juga sepertinya bukan tulisan dari Lia, selama hidupnya Lia memanggil ibu dengan panggilan Mamak bukan Mama.

Selain itu, Lia juga memanggil ayah tirinya dengan panggilan papa bukan ayah. Kejanggalan lainnya adalah kondisi jenazah yang banyak mengeluarkan darah dari mulut dan beberapa luka lebam di wajah dan juga bahu.

“Lia sangat manja dengan ibunya, dan setiap masalah pasti disampaikan kepada ibunya.”

“Anak kami sangat baik dan santun selama ini, sehingga tidak menyangka bisa terjadinya peristiwa tragis tersebut,” begitu kata T. Jamali saat diwawancarai oleh wartawan.

Namun, saat ditanya tentang penyebab meninggalnya Lia disebabkan gantung diri atau bukan, pihaknya belum ingin memberikan komentar apapun.

Sharing is caring!

Leave a Reply