Fakta Di Balik Viralnya Puluhan Lansia Ponorogo yang Tidur di Atas Coran Semen

Menjaga dan merawat anak adalah kewajiban semua orangtua.

Begitu pun dengan merawat orangtua saat fisik mereka sudah mulai melemah juga kewajiban anak-anaknya.

Namun tidak sedikit dari mereka yang enggan merawat orangtuanya sendiri dan malah memilih mengirimkannya ke panti jompo.

Ada pula para orangtua yang memiliki nasib kurang beruntung karena hidup sebatangkara saat usianya menua sehingga terpaksa hidup di panti jompo.

Seperti halnya cerita tersebut, belimlama ini viral sebuah foto tentang puluhan lansia dari binaan Panti Dhuafa di Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Puluhan lansia itu menjadi viral lantaran tidur di atas cor-coran semen beralaskan matras.

Melansir dari laman media online pada Kamis 21 November 2019, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) mengatakan pemilik sekaligus pengelola panti, Rama (38 tahun), penggunaan coran semen yang dilengkapi dengan matras dan perlak tersebut bertujuan untuk memudahkan pengelola panti untuk membersihkan tempat tidur.

Sementara Kadinsos Ponorogo Supriadi mengatakan jika pihaknya juga telah mengetahui hal tersebut sejak pertengahan 2019 ini.

Pihaknya mengetahui penggunaan coran semen untuk alas tidur tersebut sejak  melakukan kunjungan ke beberapa tempat, termasuk panti jompo yang dikelola Rama.

Bahkan telah melakukan pembicaraan dengan pemilik panti.

“Saat itu ia menyatakan hal itu agar ia dan pengurus panti lainnya lebih mudah ketika harus melakukan pembersihan. Dan tempat tidur cor semen itu hanya untuk lansia yang sudah tidak bisa beraktifitas normal sehingga kadang, maaf, harus buang air di situ (tempat tidur),” ucap Supriadi.

Apalagi dari sisi Kadinsos menilai jika alasan yang dipaparkan tentang penggunaan alas tidur dengan coran semen tersebut masih masuk akal dan manusiawi.

Apalagi penggunaannya masih dilapisi dengan kasur busa dan perlak sehingga meringankan beban pengurus panti jompo yang jumlahnya diketahui terbatas.

Supriyadi menambahkan, Panti Dhuafa Lansia merupakan satu dari 42 lembaga sosial binaan Dinsos-P3A Kabupaten Ponorogo.

Setiap tahunnya, Dinsos-P3A Kabupaten Ponorogo menyalurkan dana ke lembaga-lembaga panti jompo maupun panti asuhan yang menjadi binaannya.

Nominal penyaluran dana pun variatif, berdasarkan jumlah asuhan panti.

Disebutkan, penyaluran dana tersebut mulai dari Rp 70 juta hingga Rp 150 juta setiap tahunnya.

Melansir dari media online lainnya, Rama yang merupakan mantan pemulung itu mendirikan panti jompo karena rasa solidaritasnya yang tinggi.

Hingga akhirnya cita-citanya tersebut terkabul saat ekonominya membaik dengan mencoba peruntungan bisnis batu akik sekitar tahun 2015 dan ia memutuskan untuk menggalang dana pembangunan panti yang diprioritaskan untuk para lansia yang tidak memiliki keluarga.

Dana tersebut mayoritas di dapat dari para donator, termasuk sejumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hong Kong, selain itu juga dari donator di media sosial.

Para lansia rata-rata berumur 60-90 tahun ditemukannya di pinggir jalan.

Sementara itu, ada pula yang Rama tampung dari informasi rekan media.

Tidak terbatas mereka berasal dari Ponorogo saja, tapi dari manapun, termasu Trenggalek, Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun,  Caruban, Kediri, Malang, dan Tulungagung.

Rama juga mengungkapkan untuk menghidupi lansia di pantinya, ia menghabiskan dana yang tak kurang dari Rp 34 juta per bulan.

Setiap bulannya Panti jompo tersebut mendapat bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).