Bak Dongeng, Tubuh Siswa Kelas 2 SD Ini Penuh Lebam Diduga Disiksa Saudara Tirinya

Bak cerita di negeri dongeng, tentang kakak tiri menyiksa adik tirinya.

Hal itu terjadi di kehidupan nyata,  seorang siswi kelas 2 SD di Kutai Kartanegara diduga alami penyiksaan saudara tirinya.

Lengan tangannya dipenuhi luka lebam.

Anak bernasib malang itu bernama Kayla (8 tahun).

Dalam sebuah narasi yang ditulis di akun Facebook bernama Adi Ray memberikan sebuah informasi tentang kisah Kayla yang malang.

Kayla menyembunyikan luka yang dideritanya sampai bom waktu itu meledak.

Luka yang dialaminya ini ketahuan saat sekolahannya melakukan suntik vaksin.

Lalu seorang guru bertanya apa yang terjadi.

Pada awalnya Kayla ragu untuk bercerita, namun pada akhirnya sebuah fakta terbongkar dari pengakuannya.

Selama ini ia alami penyiksaan dari saudara tirinya.

“Jadi si adik kecil ini namanya Kayla, dia masih sekolah SD.  Dia mengalami tindak kekerasan oleh sodara tirinya di rumah yg selama ini dia tinggalin.  Dia gak pernah ngomomg sama orang kalo dia selama itu disiksa. Kenapa sampe bisa ketahuan? TUHAN PENGEN NUNJUKIN. Jadi kemarin ada kegiatan suntikan vaksin di sekolahnya dia. Dari situ gurunya liat badannya biru2. Pas ditanya ceritalah da kalo selama ini dia disiksa sama sodara tirinya. Dan bentukan siksaan yg GAK MANUSIAWI.  Yg katanya dia dikurung di kamar mandi sampe 2 hari gak dikasih makan, dipukulin, dan dipunggung ada luka bekas sayatan pisau, dan masih banyak lagi bentuk siksaan yang dia alamin. Ya Allah, manusia macam apa yang tega menyakiti manusia lain sampe segitunya. Terus yang disakitin itu anak kecil loh, Viral #JusticeForKayla” tulis Adi Fay.

Postingan Adi Fay ini sudah dibagikan lebih dari 5,6 ribu kali oleh warganet dan menjadi viral hastagnya.

Melansir dari media online, anak SD yang diduga korban penyiksaan saudara tirinya itu berasal dari siswi kelas 2 SD di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Bahkan berita ini sudah sampai ke telinga kepolisian setempat berdasarkan laporan dari salah satu anggota DPRD Kutai Kartanegara, Sopan Sopian.

Sopan mendapat laporan warga soal penganiayaan yang dialami Kayla.

“Setelah saya mendapat laporan adanya kasus penganiayaan ini dari masyarakat, saya sendiri yang mengadukannya ke polsek,“ kata Sopan.

Lalu Kapolres Kutai Kartanegara AKBP Anwar Haidar, melalui Kapolsek Muara Muntai Iptu Harun Budiono membenarkan adanya informasi tersebut.

Kepolisian mengaku masih mendalami dugaan kasus penyiksaan yang dialami oleh Kayla.

“Kami masih menyelidiki kasus ini dan meminta keterangan dari sejumlah saksi serta berkoordinasi dengan unit PPA Polres Kukar,” ucap AKBP Anwar Haidar.

Sejak sabtu, 23 November 2019 kemarin, orang tua, kedua kakak tiri Kayla, dan Kayla sudah dibawa ke polres Kutai Kartanegara untuk dimintai keterangan lebih lanjut oleh penyidik.

Bahkan pihaknya sudah melakukan visum ulang terhadap Kayla.

Tapi pihaknya belum bisa memastikan penyebab luka memar yang ada di lengan tangan Kayla.

“Katanya karena dicubit, dan luka memarnya itupun hanya ditangan itu saja, tidak seperti yang beredar di pemberitaan kalau ada juga di bagian tubuh lainnya. Bahkan saat kami periksa tidak ada juga bekas luka akibat pemecah es batu,” kata Kasat Reskrim AKP Andhika Dharma Sena.

Diketahui menurut informasi yang beredar, kondisi Kayla kini sangat memprihatinkan.

Sekujur lengan tangannya dipenuhi luka lebam yang diduga berasal dari benda tumpul (pemecah es batu, red).

Sementara kejadian ini juga tak luput dari perhatian KPAI setempat.

Komisioner KPAI Kalimantan Timur, Adji Suwignyo, mengaku sudah mendengar kabar ini dari masyarakat.

Adji berharap kasus perlindungan anak ini  bisa diselesaikan oleh kepolisian hingga ke ranah hukum.

“Kalau cuma didamaikan harus ada pembinaan, tapi alangkah baiknya pelakunya diberikan hukuman sesuai dengan apa yang dilakukannya terhadap korban,” komentar Adji Suwignyo.

Adji juga menegaskan jika kasus yang dialami Kayla ini diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi semua masyarakat.

Artinya bentuk penyiksaan terhadap siapa pun, termasuk terhadap anak harus didalami lebih lanjut untuk menimbulkan efek jera pada pelaku.

“Kami berharap agar perkara kasus ini lebih didalami. Harus diketahui motif penyebabnya, karena menurut kami kasus seperti ini tidak hanya bisa diselesaikan melalui jalan damai. Harus ada pembelajaran yang sesuai dengan perbuatan, apalagi ini murni pidana, “ tutup Adji.